1, Nasi Briyani
briyani adalah hidangan berupa
nasi (biasanya dari beras
basmati) yang dimasak dengan
rempah-rempah lalu ditambah dengan
sayuran, atau
daging (
ayam,
kambing,
ikan,
udang atau
sapi). Makanan ini berasal dari
Asia Selatan (
India dan
Pakistan). Di
Indonesia dan
Malaysia, hidangan ini disebut dengan tambahan kata
nasi (nasi biryani, nasi briyani, nasi briani, atau nasi beriani). Nama hidangan ini ("Biryani") berasal dari
Bahasa Persia,
beryā(n) (بریان) yang berarti
goreng atau
panggang. Pada zaman dulu, beras digoreng di dalam
Minyak samin sebelum direbus di dalam air bersama rempah-rempah hingga setengah matang
.
Biryani dibuat dari beras yang sudah direbus di panci terpisah.
Setelah beras setengah matang, beras dicampur dengan kaldu berbumbu,
ditutup rapat di dalam panci, dan dimasak hingga matang sampai kaldu
menyerap kedalam nasi. Biryani berbeda dengan
Pullao (
pilaf) (
nasi bumbu) dalam cara memasak. Kalau memasak
Pullao, beras digoreng bersama rempah-rempah di dalam minyak samin, dan langsung dimasak hingga matang.
Pelancong dan pedagang dari
Bangsa Persia memperkenalkan cara memasak biryani kepada orang
India dan
Pakistan. Hidangan ini tidak hanya populer di India dan Pakistan, melainkan juga di
Irak,
Iran,
Afganistan,
Bangladesh, dan kalangan penduduk muslim
Sri Lanka.
Rempah-rempah yang dipakai sewaktu memasak biryani, termasuk di antaranya:
minyak samin, kacang-kacangan,
jintan,
cengkih,
kapulaga,
kayu manis, daun
salam koja,
ketumbar, daun
mint,
jahe,
bawang bombay, dan
bawang putih. Nasi biryani yang asli memakai
safron.
Nasi biryani yang
"non-vegetarian" (bukan untuk pemakan sayuran saja) menggunakan
daging sapi,
daging ayam,
daging kambing,
daging domba, atau
udang. Hidangan sampingan bisa berupa "Chutney Dahi",
korma,
kari, sayur
terung, atau
Telur rebus.
2, Gado-gado
Gado-gado merupakan salah satu makanan yang berasal dari Betawi. Pada
awalnya Gado-Gado hanya berisi sayur-sayuran rebus dan diberi bumbu
kacang yang dicampur dengan cabai, irisan telur, dan emping sebagai
pelengkap. Akan tetapi gado-gado telah dimodifikasi, banyak yang
menambahkan jagung, kentang, tahu, tempe kedalam gado-gado, dan di
atasnya diberi taburan bawang goreng.
Istilah gado-gado digunakan
untuk menggambarkan sesuatu yang tercampur dan menjadi satu. Seperti
sebutan pernikahan gado-gado yang artinya kedua mempelai memiliki latar
belakang suku, ras, agama, dan budaya yang berbeda-beda. Dalam bahasa
Jawa, gado berarti makan tanpa nasi. Karena itulah makan gado-gado
biasanya menggunakan lontong atau dimakan begitu saja. Gado-Gado kadang
juga disebut dengan Indonesian Salad karena isinya hampir menyerupai
salad.
Jika dilihat secara sekilas, Gado-Gado, Lotek (Jawa Barat),
atau Pecel (Jawa Timur) memiliki tampilan yang mirip. Bumbu kacangnya
yang membedakan ketiga makanan tersebut, bumbu kacang gado-gado tidak
menggunakan kencur seperti yang digunakan pada Lotek dan Pecel.
3. Bapao
Bakpao merupakan makanan tradisional Tionghoa yang kini terus berkembang
di Indonesia dan negara-negara lainnya. Makanan bakpao dulunya dibawa
dan diperkenalkan oleh masyarakat asli Tionghoa ke masyarakat Indonesia
maupun masyarakat lain di dunia.
Awalnya, bakpao berisi daging babi karena mayoritas masyarakat Tionghoa
mengonsumsi daging babi. Tapi, seiring dengan perkembangan zaman dan
kuliner, isian dalam bakpao tidak melulu daging. Varian isian bakpao
bermacam-macam mulai dari cokelat, selai kacang, selai buah, daging
ayam, daging ikan hingga daging sapi juga sayuran.
Seperti dilansir dari laman
grandtaste99.blogspot.co.id,
penemu bakpao yang pertama adalah seorang tentara Tionghoa bernama
Zhuge Liang. Zhuge Liang (181 – 234) adalah salah satu tentara ahli
strategis terbaik China, perdana menteri, insinyur dan ilmuwan. Setelah
melakukan peperangan dan meraih kemenangan lantas akan kembali ke ibu
kota, Liang serta pasukannya harus melewati sungai besar yang berombak
dan berbadai.
Salah seorang memberitahukannya bahwa sejak zaman
nenek moyangnya, agar sungai tenang dan bisa diseberangi dengan selamat,
siapapun harus melempar sedikitnya 50 kepala manusia di sana. Tapi,
karena Liang tak ingin kembali terjadi pembunuhan atau pertumpahan
darah, ia pun membuat kue yang berbentuk mirip kepala manusia yang
disebut Baozi (bakpao).
gambar : @fourpoinmakassar